RI-Pakistan Segera Bahas Hambatan

JAKARTA – Kementerian perdagangan akan melakukan pertemuan lanjutan dengan perwakilan pakistan untuk membicarakan perjanjian dagang di antara kedua negara. Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kementerian perdagangan (Kemendag) Iman Pambagyo mengatakan perwakilan Indonesia dan Pakistan bakal bertemu pada 16-12 Februari 2017 di Islamabad, Pakistan untuk membahas kelanjutan Preferential Trade Agreement (PTA) kedua negara.

“Kami mau tinjau dulu hambatan-hambatan dalam implementasi PTA, baru setelah itu bicara upgrading PTA-nya,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (12/2). Iman tidak membantah yang dimaksud dengan upgrading PTA adalah mengarah ke Free Trade Agreement (FTA). Perdagangan barang menjadi sasaran pertama. Dia menyatakan ada banyak sektor yang diiharapkan dapat dimasukkan dalam perjanjian perdagangan itu. Selain kelapa sawit, sebut Iman, beberapa produk manufaktur pun turut dibicarakan.

Kemendag mengharapkan perjanjian dagang tersebut dapat selesai tahun ini. Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia ke negara Asia Selatan itu. Indonesia menguasai pasar minyak sawit dan turunannya di Pakistan hingga 82% sepanjang tahun lalu. Namun, berdasarkan catatan Bisnis, sempat terjadi perbedaan persepsi antara eksportir Indonesia dengan importir Pakistan mengenai berat produk kelapa sawit yang diterima di negara itu.

Untuk menyelesaikan perbedaan ini, Badan Pengelola Dana perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) meminta PT Sucofindo (Persero) untuk bekerja sama dengan surveyor importir Pakistan agar terjadi kesepakatan dan kesepahaman mengenai hal ini. Sucofindo bertindak sebagai surveyor dalam verifikasi jenis serta volume produk kelapa sawit yang dikirim dari Indonesia. Pakistan merupakan importir terbesar ketiga dunia untuk edible oil, dengan jumlah mencapai 2,6 juta metrik ton pada 2016.

Sebagian besar edible oil tersebut dipenuhi dalam bentuk minyak sawit dengan jumlah mencapai 2,2 juta metrik ton. Iman melanjutkan sejak berlakunya PTA, ekspor Indonesia ke Pakistan meningkat tajam. Sementara itu, ekspor Pakistan ke Indonesia justru terhambat oleh berbagai non tariff maesures (NTM). “Pakistan kini didekati oleh Malaysia untuk upgrade FTA bilateral mereka, bukan sekedar PTA. Palm oil kita bisa terancam kalau Malaysia dapatkan tarif lebih rendah dari kita,” paparnya.

PTA antara kedua negara disepakati pada 2011 dan berlaku secara efektif mulai 2012. Selain minyak kelapa sawit dari Indonesia, produk yang turut dimasukkan dalam kesepakatan itu adalah jeruk kino dari pakistan. Data Kemendag menunjukkan total perdagangan Indonesia-pakistan sepanjang Januari-Oktober 2016 mencapai US$1,66 miliar, Angka itu menyusut 5,94% secara year-on-yeor dari periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai US$1,76 miliar.

Sumber : Bisnis Indonesia

355 total views, 7 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *