RI Tetap Lanjutkan Perundingan IEU-CEPA

JAKARTA – Pemerintah Indonesia akan tetap melanjutkan perundingan Indonesia-European Union Indonesia Comprehensive Economic Partnership Agreement meski parlemen Eropa berencana menghapus biodiesel minyak kelapa sawit sebagai energi terbarukan pada 2021.

Pembahasan perundingan Indonesia-European Union Indonesia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) putaran keempat akan dilakukan pada 19 – 23 Februari 2018 di Solo, Jawa Tengah.

Pemerintah Indonesia rencananya akan membahas banyak hal termasuk soal perdagangan barang dan jasa, sebelum disepakatinya kerja sama.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan antara RI dan Uni Eropa (EU) bakal membahas banyak hal untuk memuluskan kesepakatan antar kedua negara. Dalam pemeparan Kemendag di awal tahun, target penyelesaian IEU-CEPA pada November 2018.

“Banyak sekali yang di bahas, kita bahas trade in goods-nya, services-nya. Banyak sekali yang di bahas, sampai titik koma,” kata Enggartiasto di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (12/2).

Di tengah perundingan yang dilakukan, UE berencana untuk menghapus biodiesel yang berasal dari minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Rencana tersebut didukung oleh pemungutan suara yang digelar belum lama ini, yang mayoritas memilih untuk menghapus biodiesel CPO.

Meski begitu, sikap UE atas komoditas turunan kelapa sawit tersebut diyakini tidak akan mengganggu proses perundingan untuk menyepakati perjanjian IEU-CEPA.

“Tidak ada urusannya itu [dengan rencana penghapusan biodiesel CPO]. Itu kan tentang perjanjian perdagangan antara negara Eropa dan Indonesia,” jelasnya.

Hal sama juga dikemukakan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan. Dia juga menuturkan sampai saat ini rencana Uni Eropa menghapus biodiesel CPO yang masih dalam proses, juga belum menjadi hasil akhir.

“Keputusan phase out itu kan masih akan dibahas oleh Parlemen Eropa,” sebut Oke.

Kemendag telah melakukan pengkajian beberapa produk potensial yang dapat dimanfaatkan dalam rangka perundingan IEU- CEPA.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag Kasan Muhri mengatakan ada beberapa produk potensial untuk diperdagangankan dengan Eropa antara lain produk pertanian, industri, kelautan dan perikanan, kehutanan, pertambangan dan produk obat-obatan.

“Produk pertanian berkisar 356 pos tarif antara lain minyak kelapa sawit dan turunannya, kakao, singkong, kentang, buah-buahan baik jeruk, apel maupun tomat, juga kopra,” kata Kasan kepada Bisnis, Senin (12/2).

Selain itu, produk industri sekitar 4.184 pos tarif antara lain minuman dan manisan nenas, tepung jagung, tepung singkong, sorbitol, komponen alat transportasi, rokok, produk berbasis tembakau dan alat untuk merokok, syrup serta buah-buahan kaleng.

Adapun produk kelautan dan perikanan setidaknya berkisar 164 pos tarif antara lain tuna, lobster, udang, mutiara laut, dan makanan ikan. Sementara produk kehutanan berkisar 40 pos tarif seperti produk kertas, produk pulp dan madu alami.

Produk potensial di sektor pertambangan sendiri berkisar 127 pos tarif antara lain minyak bumi dan gas, batu bara, serta produk turunan minyak bumi. “Produk obat berkisar 74 pos tarif antara lain obat, vaksin, dan suplemen.”

Untuk diketahui Indonesia dan Uni Eropa akan memasuki perundingan putaran keempat untuk menjalin hubungan dagang tersebut. Ditargetkan perjanjian ini akan disepakati pada 2019.

SEPATU & TEKSTIL

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia Shinta W Kamdani mengatakan perundingan keempat IEU-CEPA juga akan melibatkan Kadin dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) untuk private sector bersama Eurocham yang merupakan paguyuban pengusaha asal Eropa yang ada di Indonesia.

Apindo dan Kadin akan membahas tentang proposal early outcomes untuk produk sektor apparel dan alas kaki yang di ekspor ke Uni Eropa. Dia mengemukakan industri padat karya terutama dua komoditas itu tidak akan mampu bersaing dengan negara seperti Vietnam jika tidak mendapatkan proposal tersebut.

“Ini masukan private sector ke pemerintah untuk menjadi bahan negosiasi,” kata Shinta kepada Bisnis, Senin (12/2).

Sementara itu, Third Secretary Seconomic Affairs KBRI di Brussels Andi Sparringa beberapa waktu lalu kepada Bisnis mengatakan sempat mengatakan salah satu bagian terpenting dalam perundingan IEU CEPA adalah pembahasan perdagangan yang berkelanjutan.

“Tiga sektor yang saat ini menjadi perhatian adalah sustainable wood, sustainable fisheries dan sustainable palm oil,”kata Andi.

Samuel Siahaaan, Direktur Eksekutif Eurocham optimistis perjanjian kerja sama IEU-CEPA bisa cepat dalam penyelesaiannya.

“Berharap bisa cepat [perundingan IEU-CEPA]. Pada saat ini tanda-tandanya kedua pihak [RI & UE] menginginkan comprehensive agreement,” kata Samuel pada Bisnis, Senin (12/2).

BI/tambahan IEU-CEPA

Chairman of Executive Board Eurocham Ulf Backlund juga meyakini perundingan akan bisa disepakati sebelum Pemilu 2019. (Linda T. Silitonga/Dwi Nicken Tari/Yustinus Andri)

Sumber : Bisnis Indonesia

1,368 total views, 3 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *