Riau Siap Kombinasikan Sawit dan Jagung

PEKANBARU – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mendorong pemerintah setempat dan pelaku usaha perkebunan sawit di Riau untuk memanfaatkan penanaman jagung di lahan perkebunan sawit melalui sistem tumpang sari. Hal ini bisa dimanfaatkan oleh petani mandiri ataupun pihak korporasi. “Kombinasi komoditas sawit dan jagung merupakan langkah intensifikasi untuk menghasilkan dua jenis produksi tanaman berbeda pada satu lahan yang sama.

Hal tersebut bisa dilakukan pada saat sawit dalam fase TBM  [Tanaman Belum Menghasilkan],” katanya saat di Pekanbaru, akhir pekan lalu. Petani tetap mendapatkan pendapatan tambahan dari komoditas jagung yang telah dikembangkan terlebih dahulu. Untuk merealisasikan hal tersebut, dia berjanji siap membantu menyiapkan benih jagung dan peralatan ke provinsi Riau dengan mengalokasikan dana APBN. Hal ini juga sejalan dengan program prioritas Kementerian Pertanian yang meningkatkan produksi dan ekspor jagung.

Amran menilai Riau mampu mengekspor jagung. Hal ini karena provinsi tersebut berdekatan dengan Malaysia dan Singapura. Amran juga akan mengalokasikan anggaran untuk 100.000 hektar lahan padi di Kabupaten Pelalawan, Riau dalam bentuk peralatan dan mesin, dalam kunjungannya ke Riau, akhir pekan itu. Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman mengatakan jagung sangat berpotensi untuk dikembangkan pada lahan gambut yang saat ini dalam proses restorasi oleh Badan Restorasi Gambut.

Ada 900.000 kawasan hidrologi gambut yang tengah direstorasi. “Ada beberapa wilayah kabupaten yang berpotensi untuk menggarap perkebunan jagung. Ini juga mendukung restorasi gambut dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan yang rentan terjadi di perkebunan sawit,” kata Andi Rachman.

TATA NIAGA

Sementara ltu, Ekonomi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru Joko SE M.Si mengomentari pemerintah juga harus memikirkan pola tata niaga penjualan komoditas jagung tersebut agar petani tidak mengalami kerugian. “Pemerintah jangan hanya memikirkan soal penanaman. Harusnya ada pola pendistribusian yang perlu dijelaskan. Produksi bisa saja melimpah. Namun, bagaimana soal harga, juga perlu dipikirkan,” kata Joko.

Joko mengatakan jalur pendistribusian merupakan jaminan penetapan harga komoditas tersebut dan merupakan arah bagi pelaku usaha perkebunan sawit yang menanam jagung tersebut. Menurut Joko, tidak gampang mengubah pola pertanian bagi petani Riau yang biasa menanam sawit. Meski demikian, Joko setuju dengan langkah Menteri Pertanian tersebut. Menurutnya, petani sawit juga bisa menggarap pertanian komoditas lain seperti sayuran bayam, timun, cabai merah dan lainnya. (k14)

Sumber : Bisnis Indonesia

3,044 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *