Rp 17 Miliar Untuk Replanting Sawit Masamba

Masamba – Pemerintah pusat telah mengalokasikan anggaran senilai Rp17 miliar untuk peremajaan tanaman kelapa sawit di Luwu Utara. Dana ini diberikan kepada seluruh petani kelapa sawit di Luwu Utara.

Luas lahan kelapa sawit di Luwu Utara sebanyak 17.550 hektare dan tanaman tua yang perlu direhabilitasi sebanyak 3.438 hektare.

Ketua DPW Apkasindo Sulsel, A Sulaiman Ansi Loeloe mengatakan, anggaran yang diberikan kepada petani sebanyak Rp15 juta setiap hektare. ”Kita ingin peremajaan kelapa sawit dapat berjalan dengan baik supaya menghasilkan kualitas memadai,”kata Sulaiman beberapa waktu lalu.

Peremajaan kelapa sawit harus menggunakan bibit unggul. Selama ini bibit yang digunakan masyarakat merupakan bibit asalan sehingga produksinya juga sangat rendah.

Petani selama pelatuhan diberikan pendidikan dari Badan Pengelola Perkebunan Kelapa Sawit (BPPKS) cara mengenal bibit unggul kelapa sawit. Bibit unggul dapat menghasilkan produksi minyak lebih banyak.

Dia prihatin terhadap keberadaan CPO yang banyak dikomplain oleh LSM dalam dan luar negeri. Padahal, 45 persen CPO dari Indonesia merupakan hasil perkebunanan rakyat. Setiap ada banjir petani kepala saeit disalahkan, kebakaran petani kelapa sawit disalahkan. Petani kelapa sawit sangat didiskriminalisasikan.

Petani ingin bangkit agar CPO dikelola dalam negeri. Padahal, kelapa sawit ini ramah lingkungan. Makanya, Pemerintah Pusat mengelontorjan dana hibah untuk membiayai peremajaan kelapa sawit. Bantuan ini dibatasi Rp2 juta setiap hektare. Batas empat heltare setiap petani.

Kadis Hutbun Luwu Utara, drh Adriani Ismail mengatakan kebun kelapa sawit di Sulsel seluas 4.788 hektare yang sudah tua dan perlu diremajakan sebanyak 80 persen berasal dari Luwu Utara. ”Dimana mencapai 3.438 hektare lahan kebun kelapa sawit tua yang umur mencapai 35 tahun,”kata Adriani.

Selain persoalan umur tanaman kelapa sawit, petani banyak mengeluhkan soal harga yang selalu anjlok.

Harga ditingkat petani hanya mencapai Rp700 per kilogram. ”Kita ingin harga kelapa sawit tetap stabil,”ujarnya.

Administratir PTPN Buarau Jainal mengatakan harga ditingkat pabrik saat ini telah mencapai Rp1.153 per kg. ”Sebelumnya hanya Rp 1.150 per kilogram,”kata Jainal.

Kendala yang dihadapi banyak buah kepala sawit yang kurang menghasilkan minyak. Lantaran kelapa sawit yang ditanam berasal dari bibit asalan. Kalau bibit asli biasanya menghasilkan 17 persen minyak.

”Buah tandang segar yang masuk pabrik banyak yang belum masak akibatnya sering merusak pabrik. Kalau pabrik rusak biaya operasional tinggi,”ujarnya. Dia berharap peremaajaan tanaman benar-benar menggunakan bibit unggul supaya menghasilkan minyak maksimal.(shd)

Sumber: fajar.co.id

1,585 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *