Saham Emiten Sawit Kian Menggigit

Kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi faktor penentu menguatnya harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) ke atas level 3.000 ringgit per ton. Hal ini menjadi kabar baik bagi saham emiten perkebunan.

Sejak 2014 lndonesia menghadapi cuaca panas kering akibat El Nino Namun, kondisi cuaca berangsur berubah sejak pertengahan 2016 menjadi cenderung basah setelah datangnya gejala La Nina. Silih bergantinya cuaca tidak terlalu diharapkan pelaku usaha perkebunan karena mengganggu proses penanaman.

Namun, peristiwa alam ini ternyata membawa berkah bagi harga minyak kelapa sawit atau CPO yang kini nyaman bertengger di atas 3.000 ringgit Malaysia per ton. Pada penutupan perdagangan bursa Malaysia pada Jumat (2/12), harga CPO kontrak teraktif Februari 2017 terkoreksi 3 poin menuju 3.076 ringgit (US$691,55) per ton.

Dorab Mistry Eksekutif Godrej International Ltd., memaparkan fenomena El Nino yang menyebabkan terhalangnya produksi telah menekan persediaan dan hasil panen para peatni di Indonesia serta Malaysia yang menguasai lebih dari 80% pasokan CPO global.

Dia menurunkan proyeksi produksi CPO Malaysia pada 2016 menjadi 17,3 juta-17,4 juta ton dari tahun sebelumnya 17,5 juta-17,7 juta ton. Sementara itu, produksi Indonesia diperkirakan merosot menjadi 29 juta ton dibandingkan dengan raihan pada 2015 sebesar 32 juta ton.

Reli CPO juga didukung meningkatnya harga kedelai, sebagai komoditas substitusi, setelah pemerintah AS menaikkan kuota bahan bakar nabati pada tahun depan. Selain itu, pelemahan ringgit dan proses pemilihan umum di Malaysla pada 2017 memberikan sentimen positif terhadap harga.

“Faktor-faktor ini kemungkinan membuat harga CPO mencapai 3.300 ringgit sampai akhir kuartal pertama tahun depan,” ujar Mistry dalam acara The 12th lndonesian Palm Oil Conference and 2017 Price Outlook pada pekan lalu.

Senada dengan Mistry analis BCA Sekuritas Nyoman Widita Prabawa dalam risetnya memaparkan bahwa tren kenaikan harga CPO akan berlanjut sampai kuartal I/2017 dengan rentang harga 2.900 ringgit-3.000 ringgit per ton. Setidaknya ada empat faktor utama yang memengaruhinya.

Pertama, penurunan produksi global setelah El Nino masih akan terasa hingga triwulan pertama tahun depan. Kedua, peningkatan permintaan CPO dan produk turunannya menjelang perayaan Tahun Baru China yang jatuh pada 28 Januari 2017. Ketiga, merosotnya nilai tukar ringgit dan rupiah terhadap dolar AS menaikkan proyeksi ekspor serta peningkatan, permintaan. Keempat, peningkatan konsumsi CPO dari Tanah Air.

Namun, tren reli harga akan berjalan lebih tenang setelah pemulihan produksi minyak kelapa sawit terasa pada paruh 2017. Total produksi CPO global pada tahun depan diprediksi tumbuh 7,7 % year-on-year menuju 65,5 juta ton dari sebelumnya sebesar 60,9 juta ton pada 2016.

BCA Sekuritas memprediksi rerata harga CPO pada 2016 mencapai 2.600 ringgit per ton, sementara pada 2017 sebesar 2.800 ringgit per ton, serta mempertahankan rekomendasi overweight bagi saham emiten perkebunan.

Rekomendasi saham emiten teratas adalah PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk, (LSIP) dengan target harga Rp2.100 dan PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) dengan target harga Rp19.200.

Pemilihan kedua saham tersebut disebabkan neraca yang sehat serta peranan mereka sebagai pemain utama di sektor hulu CPO. Kedua saham itu mendapatkan rekomendasi buy. Cemerlangnya kinerja LSIP turut mendongkrak sang induk usaha, yakni SIMP. BCA Sekuritas juga merekomendasikan buy terhadap saham SIMP dengan target harga Rp590.

Selain itu, BCA Sekuritas hanya memberikan rekomendasi hold bagi saham PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) dengan target harga Rp2.050. Pasalnya, perusahaan masih menghadap gugatan atas kebakaran hutan.

Sumber : Bisnis Indonesia

496 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *