Sawit Berkontribusi Besar Bagi Indonesia

JAKARTA – Ketua  Dewan Pertimbangan Presiden Sri Adiningsih mengatakan, pemerintah akan mendorong pertumbuhan industri sawit karena mempunyai peran penting bagi ekonomi Indonesia. “Sebagai komoditas unggulan, sawit punya konkibusi besar bagi perekonomian Indonesia,” kata Sri Adiningsih pada Public Policy Discussion DPN APINDO bertema Tantangan Perbaikan Kebijakan Industri Perkebunan Sawit diJakarta, belum lama ini. Menurut Sri Adiningsih, industri sawit perlu terus ditingkatkan karena menghasilkan devisa besar serta mampu menghidupi lebih dari 5 juta kepala keluarga petani.

“Sawit penting sekali dalam pembangunan di Indonesia. Saya yakin dan sudah melihat sendiri bagaimana perkembangan industri sawit yang banyak menyerap tenaga kerja. Apalagi ekspor sawit terus meningkat dan menempatkan Indonesia sebagai pengekspor terbesar di dunia,” ujar Sri Adiningsih.

Senada dengan itu, Ketua Pokja Pangan, Industri Pertanian, dan Kehutanan Komite Ekonomi dan Industri (KEIN) Benny Pasaribu menuturkan, pemerintah berkomitmen untuk mengembangkan industri sawit karena melibatkan banyak tenaga kerja berpendidikan rendah seperti tamatan SD atau SMP. “Harus diakui di situlah banyak sumber daya manusia kita terutama di daerah-daerah. Walaupun jenjang pendidikan mereka tidak tinggi, namun rata-rata para pekerja sawit merupakan tenaga profesional dan pekerja keras. Terbukti di Malaysia, yang industri sawitnya lebih maju dari kita banyak memanfaatkan pekerja sawit asal Indonesia;” kata Benny.

Benny juga mengungkapkan, berbagai isu negatif terkait industri sawit Indonesia dalam persaingan global merupakan hal yang biasa. “Kita harus mampu menepis isu-isu negatif itu dengan diplomasi internasional agar industri sawit tetap terus berjalan,” jelas dia.

Anggota Komisi W DPR Firman Subagyo mengingatkan, kebiasaan masyarakat membuka lahan 2 hektar (ha) dengan cara membakar yang dijamin UU No 32 Tahun 2009 perlu diubah karena rawan penyimpangan. “Sebagai kearifan lokal yang dijamin UU, kebiasaan masyarakat membuka lahan 2 ha sebenarnya tetap bisa dipertahankan. Hanya caranya perlu diubah dari membakar menjadi menggunakan mekanisasi seperti traktor dan sebagainya,” kata Firman.

Untuk itu, Firman mengharapkan, pemerintah perlu membantu masyarakat untuk mengubah perilaku tersebut. Pembukaan lahan menggunakan mekanisasi jauh lebih manusiawi dan tidak menimbulkan banyak masalah dikemudian hari. Cara-cara membuka lahan dengan membakar sebaiknya tidak ditolerir karena rawan penyimpangan. Kebakaran besar pada 2015 yang dipakai sebagai acuan untuk membuat sejumlah regulasi yang bertendensi memojokkan industri, didesain oleh kelompok tertentu dengan memanfaatkan celah dari kearifan lokal tersebut,” kata dia.

Apabila sebelumnya kebakaran hanya terjadi beberapa wilayah, seperti Riau, Jambi dan Sumatera, kebakaran hutan dan lahan 2015 berbeda karena bersifat masif dan sistematis. Masif karena kebakaran terjadi secara merata di tujuh provinsi di Indonesia, sistematis karena kasus kebakaran beruntun dari Sumatera hingga Papua. “Ada dugaan, pihak-pihak tertentu dan LSM yang mengatasnamakan lingkungan mendesain kasus kebakaran itu dengan memanfaatkan celah dari kearifan lokal untuk membakar seluas 2 ha.

Dugaan rekayasa pembakaran itupun pernah diutarakan salah satu instansi pemerintah. Hanya saja, masalah itu tidak terkuak ke publik karena syarat dengan berbagai kepentingan,” kata Firman.

Firman menduga motivasi mendesain kebakaran hutan dan lahan pada 2015 terkait dengan masalah politik perdagangan. Dari sekian banyak komoditas minyak nabati, hanya sawit itu yang mampu tumbuh dengan baik dan mampu mengalahkan pesaing minyak nabati lain.

“Karena itu, asing melalui berbagai perjanjian internasional, seperti konferensi perubahan iklim di Paris serta Perjanjian Norwegia, berusaha mematikan potensi nasional Indonesia,” kata dia. Firman mengingatkan, pemerintah Jokowi untuk tidak mudah terhasut dengan pernyataan beberapa LSM, karena banyak dari mereka merupakan operator kepentingan asing di lndonesia. “Sebenarnya, berkali-kali saya menghimbau BIN dan aparat Kepolisian untuk menyelidiki LSM-LSM yang suka mendiskreditkan kebijakan nasional,” kata dia. (tl)

Sumber : Kontan

371 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *