Sawit Indonesia Jadi Sasaran Trade War Asing

Jakarta – Derasnya kampaye hitam yang dilancarkan LSM asing terhadap industri sawit Indonesia, bukti adanya perang dagang (trade war). Mudah-mudahan, pemerintah berpihak kepadai industri sawit nasional.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono mengatakan bahwa indikasi trade war terhadap produk sawit dan produsen di tanah air, sulit ditutupi. Para pelaku LSM asing sangat rajin dalam meniupkan kampanye hitam terhadap produk sawit asal Indonesia.

“Sejak era 80-an, industri sawit terus berkembang. Belakangan, ada pihak-pihak yang khawatir dengan melesatnya produk sawit khususnya dari Indonesia. Kemudian, dibuatlah kampanye hitam terhadap sawit kita. Jelas-jelas ini trade war,” papar Joko saat acara buka bersama Pengurus GAPKI Pusat dengan Perwakilan GAPKI daerah dengan wartawan di Jakarta, Jumat (10/6/2016).

Kalangan LSM asing itu, lanjutnya, tak kehilangan energi untuk menyerang industri sawit Indonesia. Isu yang ditiupkan sangat tendensius dan tidak bisa dibuktikan. Misalnya, industri sawit di Indonesia memicu konflik sosial, kerusakan lingkungan, pencemaran dan pencipta emisi rumah kaca, penghancur biodiversiti dan masih banyak lainnya.

“Karena tahapannya sudah trade war, penanganannya tidak bisa hanya dengan mengandalkan promosi, edukasi dan kampanye saja. Memang perlu dilawan dengan strategi trade war juga,” ungkapnya.

Selanjutnya, pria asal Magetan, Jawa Timur ini menjelaskan jumbonya kontribusi industri sawit terhadap perekonomian nasional. Tahun lalu saja, devisa dari ekspor sawit mencapai US$ 18,5 miliar. Angka ini memang turun dibanding tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata di atas US$ 21 miliar.

“Tahun lalu memang turun, namun angkanya bisa melampaui devisa dari migas yang mencapai 18 miliar dolar AS. Artinya, ekspor sawit tahun lalu adalah yang tertinggi. Selama ini selalu di bawah ekspor migas,” ungkap Joko.

Ke depan, lanjut Joko, prospek industri sawit nasional tetap menjanjikan. Meski, pelemahan perekonomian global khususnya di Cina, bikin pelaku bisnis ini was-was. Lantaran, ekspor minyak sawit mentah alias crude palm oil ke Cina, nilainya cukup signifikan.

Sementara Sekretaris Jenderal GAPKI Togar Sitanggang sangat menyayangkan banyaknya black campaign terhadap produk sawit Indonesia. Padahal, tuduhan miring sengaja dihembuskan untuk mematikan industri sawit di Indonesia.

“Misalnya, industri sawit di Indonesia dianggap memicu konflik sosial di daerah. Mana buktinya? Saat ini ada 11 juta hektar lahan sawit, berapa banyak konflik yang ditimbulkan? Yang ada ekonomi daerah berkembang pesat karena sawit,” paparnya.

Demikian pula soal lahan gambut sebagai wahanan bertumbuhnya sawit dianggap pemicu kebakaran hutan dan lahan. “Jelas-jelas itu tidak sesuai dengan kenyataan. Kalau gambut yang tidak diurus, bisa juga benar. Tapi kalau dikelola untuk kebun sawit, kan aman-aman saja. Apalagi sudah ada teknologi drainase untuk gambut,” pungkas Togar. [ipe]

Sumber: Inilah.com

465 total views, 4 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *