Selesaikan masalah sawit, RI undang parlemen Uni Eropa minggu depan

Parlemen Uni Eropa belum lama ini mengeluarkan resolusi soal sawit dengan melarang biodiesel berbasis sawit. Parlemen Eropa berpendapat, komoditas sawit menciptakan banyak masalah dari deforestasi, korupsi, pekerja anak, sampai pelanggaran HAM.

Deputi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bidang Pendanaan Pembangunan, Kennedy Simanjuntak menegaskan, sawit Indonesia sebenarnya sudah punya sertifikasi sendiri dan tidak melakukan hal yang dituding Uni Eropa. Menjelaskan ini semua, pihaknya akan bertemu langsung dengan Uni Eropa minggu depan.

“CPO belum selesai. Minggu depan parlemen Eropa kita undang ke sini,” ungkapnya di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Selasa (16/5).

Dia mengakui, parlemen Eropa sulit untuk memahami sertifikasi sawit yang telah dilakukan Indonesia. Namun, dia berharap dalam diskusi nanti sertifikasi Indonesia dapat diterima

“Yang paling sulit adalah kawan-kawan dari Eropa memahami sertifikasi. Kita kembangkan sertifikasi Indonesia sendiri. Ini jadi pemahaman bersama. Ini salah satu keberhasilan kita dan mereka kalau bisa memahami itu,” ujarnya.

Selama ini, sertifikasi sawit di Indonesia dengan Eropa memang masih ada perbedaan. Namun, pemerintah Indonesia sudah memperbaiki dan mengembangkannya. “Ada yang beda, tapi kita sudah mengembangkan sertifikasinya. Kita kan produsen CPO terbesar bersama Malaysia,” jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif PASPI (Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute), Tungkot Sipayung menjelaskan, permasalahan Indonesia dengan Uni Eropa terkait sawit tak lepas dari persaingan bisnis. Uni Eropa menurutnya saat ini tengah mengembangkan minyak nabati berasal dari bunga matahari. Jika Indonesia terus dibiarkan, maka produk mereka tidak bisa bersaing.

“Eropa itu punya minyak nabati dair minyak bunga matahari. Kita punya sawit, jadi kebetulan produktivitas minyak sawit 10 kali lipat dari minyak bunga matahari Eropa,” jelas Tungkot saat dihubungi merdeka.com akhir pekan lalu.

Minyak nabati buatan Eropa kalah saing dengan sawit yang berasal dari Indonesia. Pangsa pasar minyak nabati ini juga anjlok parah. Eropa sudah berulang kali menghalangi produk sawit Indonesia. Misalnya dengan menerapkan bea masuk impor beberapa waktu lalu. Eropa tidak pernah berhenti mengalahkan produk sawit Indonesia dan ini sudah seperti perang abadi.

“Jadi mereka mencoba melindungi minyak nabati mereka dengan membuat tarif impor, tapi kan menurut WTO itukan enggak boleh tarif tanpa alasan yang kuat. Sekarang mereka isukan soal lingkungan dan HAM, soal macam-macam lah itu. Mereka biayain LSM data Indonesia agar bisa menyerang Indonesia. Jadi ini dari dulu dan akan ada seterusnya.” [idr]

Sumber : Merdeka.com

1,422 total views, 3 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *