Siswa SMK Ciptakan Pembersih Udara Berbahan Limbah Sawit

BALIKPAPAN – Pendidikannya baru di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) namun sudah mampu membuat teknologi tepat guna (TTG) berupa alat pembersih udara berbahan limbah sawit.

Inilah hasil karya pelajar SMK Negeri 1 Kota Bontang.

Ketika ditemui Tribun, Abdi Mursiyid (16), siswa SMKN 1 Bontang menuturkan, pembuatan alat pembersih udara dilakukan secara kelompok dengan bimbingan guru.

“Sudah saya coba ternyata tidak terlalu sulit. Saya memang sudah suka dengan teknologi jadi membuat ini serasa tantangan yang menggiurkan,” ujarnya Rabu (20/7/2016).

Ketua Pembimbing Teknologi Tepat Guna SMK Negeri 1 Bontang, Wayujuliati Astuti, menjelaskan, alatnya penyaring udaranya menggunakan sisa bakaran kepala sawit dan juga bisa menggunakan arang kayu.

“Di Bontang banyak pabrik sawit kami memakainya dari sisa buangan arang kepala sawit. Kami pakai ini sebagai metode penyaringan udara kotor menjadi bersih dan bisa mengasilkan udara yang berhawa sejuk,” katanya.

Karena kata dia, alatnya tersebut diberikan semacam sistemicegeal, sehingga udara yang kotor disedot kemudian menghasilkan buangan udara yang bersih dan sejuk.

“Kami belum membuat secara massal. Tapi sementara ini kami buat praktik di sekolah saja,” katanya.

Latar belakang diciptakan alat itu melihat kondisi udara di Kota Bontang sudah banyak tercemar polusi dari kegiatan industri. Pencemaran udara inilah yang membawa dampak bagi kesehatan tubuh, terutama gangguan saluran pencernaan.

“Kami gunakan untuk membantu pembersihan udara jika ada kebocoran di pabrik pupuk yang mengandung polusi udara amonia. Biasanya kami pakai jika memang dibutuhkan. Alat kami sudah teruji,” ujar Astuti.

Pembuatan alat itu, dianggap tidak terlalu rumit, hanya saja membutuhkan banyak dana. Selama ini, alat itu sudah menelan biaya sebesar Rp 600 ribu. Bagi kalangan pelajar, untuk praktek membuat alat ini dianggap mahal.

Menurut Astuti, alat yang paling mahal ialah remote control roda penggerak. Alat pembersih ini dilengkapi empat roda, bertujuan alatnya bisa dibawa kemana saja, bisa dikendalikan denganremote control dengan durasi jarak terjauh 50 meter.

Dikemukakan, diberi roda untuk memudahkan ketika memberishkan di area yang sulit dijangkau.

“Ada kawasan sudah tercemar udara kotor. Kita tidak perlu masuk ke area bahaya ini. Cukup kita kendalikan lewat remote control, alatnya bisa mensterilkan udara,” kata Astuti yang lulusan Sarjana Pendidikan Kimia dari Univeristas Sebelas Maret ini.  (*)

Sumber: kaltim.tribunnews.com

921 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *