Stok CPO Menipis, Permintaan Meningkat

Medan – Stok minyak sawit mentah (CPO/crude palm oil) Indonesia terus tergerus. Padahal disaat yang sama produksi justru mulai meningkat. Ini terjadi karena tingginya permintaan pasar global terhadap CPO Indonesia. Permintaan tinggi itu terutama datang dari India, China, Uni Eropa dan Amerika Serikat.

“Stok minyak sawit Indonesia pada Agustus tercatat turun 11 persen dibandingkan bulan sebelumnya, atau dari 1,88 juta ton pada Juli, menjadi 1,695 juta ton di bulan Agustus,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Fadhil Hasan dalam keterangan tertulisnya kepada MedanBisnis, Kamis (20/10).

Fadhil mengatakan, disaat yang sama produksi minyak sawit Indonesia sudah mulai meningkat. Ia mencontohkan pada Agustus lalu, produksi minyak sawit Indonesia tercatat sebesar 2,98 juta ton atau naik 7% dibandingkan bulan sebelumya yaitu 2,78 juta ton.

Ia memprediksi, peningkatan produksi ini karena faktor cuaca yang mendukung. Industri sawit nasional juga mendapatkan kabar baik di mana ekspor minyak sawit (CPO dan seluruh produk turunannya) Indonesia, termasuk biodiesel dan oleochemical, pada Agustus juga secara mengejutkan naik cukup signifikan, yaitu 29% atau dari 1,74 juta ton pada bulan Juli meningkat menjadi 2,23 juta ton di Agustus.

Ekspor minyak sawit Indonesia tergenjot karena pasar mengantisipasi kenaikan harga minyak sawit global karena menipisnya cadangan minyak sawit Indonesia dan Malaysia.

Sementara itu, sambung Fadhil, ekspor CPO dan turunannya ke negara-negara tujuan utama juga membukukan kenaikan yang siginifikan, terutama ke negara tujuan utama ekspor. Seperti China membukukan kenaikan 69% atau dari 158,79 ribu ton pada Juli terdongkrak menjadi 267,98 ribu ton di Agustus.

Kenaikan ekspor juga diikuti oleh negara-negara Uni Eropa yaitu 43% atau dari 340,37 ribu ton di bulan Juli menjadi 486,05 ribu ton di Agustus.

Kemudian India membukukan kenaikan sebesar 42% atau dari 351,24 ribu ton di Juli menjadi 497.30 ribu ton di Agustus. Kenaikan permintaan paling signifikan secara persentase dibukukan oleh Amerika Serikat yaitu sebesar 183% atau dari 47,73 ribu ton di Juli melambung menjadi 135,15 ribu ton di Agustus.

Di sisi lain, Fadhil menyebutkan, negara-negara Afrika dan Timur Tengah sebaliknya membukukan penurunan masing-masing sebesar 43% dan 37%.
Berdasarkan data yang diolah GAPKI dari berbagai sumber resmi, penyerapan biodiesel di dalam negeri masih tetap konsisten rata-rata 250 ribu kiloliter (kl) per bulan, walau harga CPO sepanjang bulan Agustus bergerak di kisaran US$ 645 – US$ 780 per metrik ton.

Ia melihat menipisnya stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia, menimbulkan reaksi kenaikan harga karena para traders mulai mengadakan aksi beli sebelum harga semakin meninggi. Alhasil, harga minyak sawit global terkerek sepanjang September dan bergerak di kisaran US$ 740 – US$ 795 per metrik ton.

“GAPKI memerkirakan harga CPO di tingkat global masih akan bertahan di kisaran US$ 750 – US$ 790 per metrik ton sepanjang Oktober 2016,” kata dia.
Fadhil juga mengungkapkan, pemerintah Indonesia telah menetapkan pengenaan bea keluar sebesar US$ 3 untuk setiap ton CPO yang diekspor pada bulan Oktober.

“Pengenaan bea keluar karena harga rata-rata CPO telah berada di atas batas bawah aturan pengenaan bea keluar yaitu US$ 750 per metrik ton,” tegas Fadhil. (hendrik hutabarat)

Sumber: medanbisnisdaily.com

 

498 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *