Tahun 2017 Diyakini Lebih Baik

JAKARTA — Harga komoditas unggulan Indonesia dan penyaluran kredit perbankan diperkirakan membaik pada 2017. Perbaikan harga komoditas tak lepas dari pemulihan ekonomi Tiongkok. Adapun pertumbuhan kredit didorong perbaikan harga komoditas.

Faktor lain yang juga mendorong pertumbuhan kredit adalah pelonggaran kebijakan Bank Indonesia.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara dalam diskusi Arah Kebijakan Bank Indonesia 2017, di Jakarta, Kamis (1/12), mengatakan, pelambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok tampaknya sudah berhenti. Kendati tidak akan menyentuh angka 7 persen, pertumbuhan ekonomi Tiongkok diperkirakan bisa 6,5 persen-6,7 persen pada 2017.

Indikator kondisi itu adalah harga komoditas yang membaik, khususnya tambang dan perkebunan, menjelang akhir tahun ini. BI memprediksi pemulihan harga komoditas tersebut akan berlanjut tahun depan.

“BI melihat pertumbuhan ekonomi daerah-daerah penghasil komoditas tambang dan perkebunan, terutama Kalimantan dan Sumatera, mulai pulih. Sumatera tumbuh 4 persen, sedangkan Kalimantan tumbuh 2 persen. Kontribusi kedua daerah tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi nasional 20 persen,” ujarnya.

Menurut Mirza, perbaikan sektor komoditas akan mendorong penyaluran kredit di sektor industri tersebut, termasuk industri di bawahnya akan semakin tumbuh.

Pada 2014-2016, perbankan masih fokus merestrukturisasi kredit bermasalah, yang terutama dipicu harga komoditas yang anjlok. Restrukturisasi kredit bermasalah diperkirakan tuntas pada 2017. Setelah kredit direstrukturisasi dan harga komoditas ekspor andalan Indonesia membaik, perbankan diyakini mulai meningkatkan ekspansi kredit.

“Apalagi, setelah BI memberlakukan giro wajib minimum rata-rata pada pertengahan 2017, bank pasti semakin fleksibel dalam mengelola likuiditas dan menyalurkan kredit,” ujarnya.

Tahun ini, BI memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan di bawah 10 persen. Namun, tahun depan, BI optimistis kredit perbankan dapat tumbuh 10 persen hingga 20 persen.

Selama ini, perbankan mengatur likuiditas secara jangka pendek karena harus menyerahkan giro ke BI setiap hari. Dengan giro wajib minimum rata-rata, bank bisa lebih tenang mengatur likuiditas, terutama dalam menghadapi fluktuasi likuiditas. Aturan giro wajib minimum akan dilakukan secara bertahap.

Di sisi lain, tambah Mirza, BI tetap memperhatikan arah kebijakan ekonomi presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump. BI meyakini, gejolak dan dampak Trump bersifat sementara dan berlangsung hingga Januari 2017. Kebijakan tersebut juga akan memengaruhi bank sentral AS, The Fed, dalam menentukan suku bunga acuannya pada akhir tahun ini. Kenaikan suku bunga acuan ini akan berdampak pada kebijakan moneter dan ketersediaan dana, terutama di negara-negara berkembang.

Direktur Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Dody Edward mengatakan, harga beberapa komoditas unggulan ekspor Indonesia kembali menguat, terutama minyak sawit mentah (CPO). Pada Desember 2016, harga referensi CPO sebesar 749,47 dollar AS per metrik ton. Harga tersebut naik 6,24 dollar AS dari November 2016.

“Saat ini, harga referensi CPO menguat dan tetap berada di bawah ambang batas pengenaan bea keluar, yaitu 750 dollar AS per metrik ton. Untuk itu, pemerintah tetap mengenakan bea keluar 0 dollar AS per metrik ton untuk periode Desember 2016,” kata Dody.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo mengemukakan, sektor komoditas andalan ekspor Indonesia mulai membaik. Salah satu indikasinya adalah peningkatan nilai tukar petani (NTP) subsektor tanaman perkebunan rakyat.

BPS mencatat, NTP subsektor tersebut pada November 2016 sebesar 98,67 atau meningkat 0,03 dari Oktober 2016 yang sebesar 98,64. “Kami memperkirakan sudah ada perbaikan harga komoditas, terutama minyak kelapa sawit,” ujar Sasmito. (HEN)

Sumber : KOMPAS

2,992 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *