Terus Dijegal Eropa, Negosiasi Lanjut

JAKARTA — Indonesia terus memperjuangkan akses produk minyak sawit mentah alias crude palm oil di pasar internasional meski hambatan datang dari berbagai pihak termasuk negara-negara Eropa.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan pihaknya tidak akan tinggal diam terhadap hambatan yang dikeluarkan sejumlah negara asing termasuk resolusi sawit Eropa. Dia menyatakan akan memberikan peringatan kepada Benua Biru.

“Kalau ini terus dilakukan sama saja dengan perang dagang. Padahal di satu sisi mereka menginginkan perdagangan bebas dan fair trade,” ujarnya di Jakarta, Senin (10/7).

Mendag mengatakan proses negosiasi akan terus dilakukan kepada negara atau pihak yang berupaya menghambat ekspor komoditas itu. Bahkan, dia menyebut tak khawatir membalas tantangan perang dagang yang dikeluarkan oleh negara Eropa.

“Kita akan jalan terus, mereka jalan maka kita juga jalan. Kita pada posisi akan melaporkan pada WTO,” imbuhnya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Karyanto Suprih menilai negara-negara Eropa selalu berupaya menghambat kinerja ekspor produk unggulan Indonesia. Pihaknya menyatakan akan segera mengambil langkah terkait larangan yang dikeluarkan oleh Prancis.

“Segala opsi akan dilakukan untuk membela kepentingan nasional. Kita bisa membuat balasan tetapi tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri,” paparnya.

Karyanto menyatakan akan membicarakan permasalahan tersebut dengan lintas kementerian dan lembaga (K/L). Pasalnya, dia menilai bakal terus dikeluarkan hambatan dari negara-negara Eropa.

Seperti diketahui, Kamis (6/7/17) waktu setempat, Menteri Lingkungan Hidup Prancis Nicolas Hulot mengatakan akan mengambil langkah untuk melarang penggunaan minyak sawit dalam produksi biofuel guna mencegah kerusakan hutan di negara eksportir. Indonesia dan Malaysia merupakan eksportir minyak sawit terbesar di dunia.

Sebelumnya, Uni Eropa telah mengenakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap biodiesel Indonesia sejak 2013. Besarannya adalah 8,8%-23,3% per ton atau setara dengan 76,94 euro-178,85 euro per ton.

EFEK DOMINO

Pengusaha kelapa sawit mewaspadai dampak larangan penggunaan minyak sawit dalam produksi biofuel Prancis. Otoritas setempat menyebut langkah tersebut bertujuan mengurangi kerusakan hutan di negara pengekspor komoditas itu.

Ketua Bidang Agraria dan Tata Ruang Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono menyatakan secara pangsa pasar, impor minyak sawit Prancis dari Indonesia memang kecil. Namun, dia mewaspadai larangan tersebut menyebar ke negara lainnya.

“Sebenarnya kalau mau lihat secara realistis pasar mereka tidak besar. Jadi, kalau kondisi sekarang memang belum berpengaruh,” ujarnya.

Dia mengatakan pemerintah dan pelaku usaha akan turun tangan secara bersamaan untuk mengatasi masalah tersebut. Pasalnya, jika didiamkan hal tersebut akan berdampak terhadap ekspor minyak sawit Indonesia.

Gapki mencatat keseluruhan konsumsi CPO Indonesia pada 2016 yakni 11,06 juta ton. Pada kuartal I/2017, jumlah konsumsi CPO domestik sebanyak 2,73 juta ton.

Sementara itu, stok minyak sawit Indonesia menciut 27% pada Februari 2017 menjadi 1,4 juta ton di Maret 2017. Tingginya ekspor yang belum sejalan dengan peningkatan produksi dinilai oleh GAPKI menjadi penyebab hal tersebut. (M. Nurhadi Pratomo)

 

Sumber : Bisnis Indonesia

 

984 total views, 2 views today

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *